Makanan

Warna Makanan di Amerika: Janji Besar Industri dan Tantangan Rantai Pasokan

Dipublikasikan pada

A rainbow-layered cake with blue frosting is decorated with a rainbow swirl and a slice is visible.
Source: ConfectioneryNews Ingredients

Latar belakang perubahan warna makanan

Di Amerika Serikat, sejumlah produsen makanan besar telah berkomitmen untuk menghapus pewarna sintetis berbasis petroleum dari produk mereka. Contohnya, General Mills telah menyingkirkan semua pewarna bersertifikat FD&C dari sereal yang dijual di pasar domestik, menyelesaikan satu dari sekian banyak target reformulasi yang dipantau industri. Hingga kini, sekitar 90 % portofolio ritel General Mills di AS telah bebas dari pewarna tersebut; sisa kategori seperti camilan buah dan produk panggang dijadwalkan selesai pada akhir 2027.

Komitmen serupa juga diambil oleh perusahaan lain, termasuk Kraft Heinz, Nestlé USA, Conagra, Tyson Foods, Hershey, Grupo Bimbo, Kellanova, Utz Brands, McKee Foods, Campbell’s, dan JM Smucker. Walmart berencana menghilangkan lebih dari 30 bahan, termasuk pewarna bersertifikat, dari merek privatnya pada Januari 2027, sementara Target sudah menyelesaikan penghapusan pewarna sintetis pada sereal yang dijualnya. Asosiasi Pembuat Roti Amerika (American Bakers Association) menargetkan penghapusan warna FD&C dari produk roti yang disuplai ke program makanan sekolah federal mulai tahun ajaran 2026‑27.

Meskipun daftar perusahaan yang berjanji terlihat mengesankan, sebuah laporan baru yang dipesan oleh National Confectioners Association (NCA) dan disusun oleh RTI International menyoroti kesenjangan antara janji tersebut dan kemampuan rantai pasokan.

Permintaan warna non‑FD&C diproyeksikan melonjak

Laporan “Recoloring the US Food Industry’s Future” memperkirakan bahwa kebutuhan akan pewarna alami (non‑FD&C) dapat meningkat antara 400 % hingga 500 % dibandingkan dengan konsumsi saat ini. Pasar yang menghasilkan sekitar US $57,8 miliar pada produk berwarna FD&C pada 2025 diperkirakan akan mencari alternatif dalam skala yang belum tersedia.

Data RTI menunjukkan bahwa pada 2025, pewarna FD&C terdapat dalam sekitar 4 % produk yang dijual melalui pengecer non‑premise di AS, menyumbang 7,1 % total penjualan makanan dan minuman. Penjualan minuman menyumbang 28,9 % dari total tersebut, diikuti permen (22,4 %), camilan gurih (19,6 %) dan camilan manis (17,9 %). Di segmen permen saja, produk berwarna FD&C mencakup 28,7 % dari semua varian dan 42,2 % dari nilai penjualan.

Secara kuantitatif, pada 2025 Amerika Serikat mengesahkan sekitar 21,4 juta pon pewarna FD&C (merah, kuning, biru, hijau), sementara pasar non‑FD&C hanya mencapai 12 juta pon. Karena pewarna alami biasanya memiliki konsentrasi yang jauh lebih rendah, menggantikan satu pon FD&C dapat memerlukan sepuluh pon atau lebih pewarna non‑FD&C, sehingga kesenjangan pasokan menjadi jauh lebih besar daripada yang terlihat dari volume pasar saat ini.

Investasi dan respons produsen warna

Sensient Technologies, salah satu pemasok utama warna, mengumumkan investasi hingga US $250 juta untuk memperluas fasilitas produksi warna alami di St. Louis, termasuk penambahan ruang produksi seluas 28.800 sq ft. CEO Paul Manning menyebut konversi ini sebagai “kesempatan terbesar dalam sejarah perusahaan”. Ia memperkirakan sekitar US $100 juta pendapatan dari pewarna sintetis dapat dialihkan ke alternatif alami dengan rasio pendapatan sekitar 10:1, mengingat produsen memerlukan volume bahan yang jauh lebih besar untuk mencapai warna yang sama.

Namun, menurut RTI, kapasitas pertanian dan pengolahan di AS saat ini tidak mampu menampung lonjakan permintaan sebesar itu tanpa investasi besar‑besaran pada lahan pertanian, fasilitas ekstraksi, dan jaringan distribusi.

Sumber alami dan ketergantungan impor

Warna alami dapat diproduksi dari berbagai bahan tanaman—bit, wortel hitam, paprika, kunyit, annatto, saffron, kubis merah, marigold, spirulina, serta bunga kacang kupu‑kupu. Pewarna karmin berasal dari serangga cochineal. Laporan NCA mencatat bahwa AS sangat bergantung pada impor untuk bahan-bahan ini: 98,2 % annatto, 99,1 % bunga kacang kupu‑kupu, dan 99,7 % saffron berasal dari luar negeri. China menyuplai 76 % capsanthin (pigmen merah dari paprika) dan 75 % gardenia blue (genipin), sementara India menyediakan sekitar 86 % kurkumin dan 74 % lutein.

Peningkatan permintaan AS dapat menekan ketersediaan bahan baku secara global, menaikkan harga dan menimbulkan persaingan dengan produsen di pasar lain.

Tantangan teknis dan biaya reformulasi

Penggantian pewarna sintetis bukan sekadar mengganti bahan baku; warna alami memiliki sifat kimia yang berbeda. Mereka lebih sensitif terhadap panas, cahaya, oksigen, keasaman, dan kelembaban. Sebuah warna yang tampak stabil selama pengembangan dapat memudar selama penyimpanan atau berubah warna saat diproduksi dalam skala besar. Hal ini memaksa produsen untuk menyesuaikan proses manufaktur, sistem rasa, kemasan, serta prosedur penyimpanan dan distribusi.

RTI memperkirakan biaya reformulasi per SKU (stock‑keeping unit) berada di kisaran US $50.000–$500.000, termasuk pengujian stabilitas, uji rasa, dan peninjauan regulasi. Untuk perusahaan multinasional dengan ratusan varian produk, total biaya dapat mencapai ratusan juta dolar. Waktu yang dibutuhkan untuk validasi umur simpan berkisar 12–24 bulan, sementara pengembangan sistem warna baru dapat memakan tiga hingga empat tahun.

Dari sisi keamanan, pewarna FD&C telah melewati sertifikasi batch FDA, sedangkan alternatif alami belum memiliki mekanisme sertifikasi serupa, sehingga risiko kontaminasi, logam berat, atau adulterasi menjadi lebih tinggi. Sensient memperingatkan bahwa peningkatan permintaan pada 2026‑27 dapat memicu kegagalan pengujian terkait kontaminasi.

Inovasi fermentasi presisi

Beberapa perusahaan mulai mencari solusi di luar pertanian. Oterra US, bersama mitra bioteknologi Debut, mengembangkan alternatif fermentasi presisi untuk Red 40, dengan target produksi komersial dalam tiga tahun. Menurut kepala inovasi Luc Ganivet, proses fermentasi dapat menghasilkan warna yang stabil dan tidak tergantung pada kondisi cuaca, meskipun jadwal pengembangan masih lebih lama daripada tenggat waktu yang ditetapkan oleh banyak produsen.

Dampak pada konsumen dan tren pasar

Meskipun tantangan teknis dan pasokan besar, data penjualan menunjukkan konsumen tidak menolak produk dengan label “warna alami”. Antara 2024 dan 2025, penjualan produk berlabel warna alami naik 24,4 %, sementara produk dengan pewarna buatan hanya tumbuh 0,1 %. Di segmen permen, kenaikan masing‑masingnya mencapai hampir 20 % dan 0,2 %. Produk baru PepsiCo yang menggunakan warna alami, seperti Doritos dan Cheetos “Simply NKD”, menghasilkan lebih dari US $3 juta dalam bulan pertama peluncuran. Atkinson Candy mencatat peningkatan penjualan Chick‑O‑Stick sebesar 60,3 % setelah memulai transisi pada 2019.

Namun, contoh-contoh ini tidak membuktikan bahwa penghapusan pewarna secara otomatis meningkatkan penjualan; mereka hanya menunjukkan bahwa konsumen bersedia menerima produk yang direformulasi.

Rekomendasi untuk mengatasi kesenjangan

Berdasarkan temuan NCA dan RTI, keberhasilan transisi warna makanan memerlukan koordinasi lintas rantai pasokan, bukan sekadar reformulasi produk. Langkah‑langkah yang disarankan meliputi:

  • Standar nasional yang seragam serta jadwal transisi yang realistis.
  • Peningkatan produksi domestik bahan baku warna, termasuk perluasan lahan pertanian dan fasilitas ekstraksi.
  • Perjanjian jangka panjang antara petani, pemasok, dan produsen untuk menjamin pasokan yang stabil.
  • Pengembangan stabilitas warna alami terhadap faktor lingkungan (panas, cahaya, oksigen, pH).
  • Prioritas pada reformulasi sederhana sambil meneliti solusi untuk produk yang lebih kompleks.
  • Sinkronisasi perubahan kemasan, label, distribusi, dan penjualan untuk menghindari stok yang tidak terpakai.
  • Investasi dalam teknologi fermentasi presisi dan metode produksi skala besar lainnya.
  • Komunikasi kepada konsumen mengenai kemungkinan perbedaan warna, harga, dan performa produk.

Tanpa upaya terpadu, RTI memperingatkan bahwa industri dapat menghadapi biaya lebih tinggi, ketidaksesuaian regulasi antar‑negara bagian, kekurangan bahan, serta pemborosan yang tidak perlu.

Penutup

Janji industri makanan Amerika untuk menghapus pewarna sintetis pada 2027 telah menimbulkan gelombang perubahan yang jauh melampaui sekadar mengubah resep. Kebutuhan akan lahan pertanian, fasilitas ekstraksi, dan teknologi baru menuntut investasi besar dan koordinasi nasional. Sementara konsumen menunjukkan minat pada produk dengan warna alami, realitas rantai pasokan masih menjadi penghalang utama yang harus diatasi sebelum target ambisius tersebut dapat tercapai.