Komoditas
El Niño “Godzilla” 2026‑2027: Ancaman Besar bagi Komoditas Pangan Global
Dipublikasikan pada

Fenomena El Niño yang tak pernah terjadi sebelumnya
El Niño 2026‑2027 diprediksi menjadi “Super El Niño” dengan suhu permukaan laut yang diperkirakan naik 4 °C di atas rata‑rata pada bulan November, jauh melampaui ambang 2 °C yang menetapkan status super. Pada siklus kuat tahun 1998 suhu naik 2,8 °C dan menimbulkan kerugian ekonomi global sekitar US$5,7 triliun selama lima tahun. Pada September 2026 suhu sudah 3 °C di atas normal.
Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa Bangsa (FAO) bersama Program Pangan Dunia (WFP) mengumumkan permohonan dana US$220 juta untuk melindungi 9 juta orang di 22 negara termiskin dari ancaman kelaparan yang dipicu oleh fenomena tersebut.
Menurut Oliver Carpenter, kepala analisis lingkungan di konsultan risiko iklim Risilience, El Niño ini dapat menurunkan produksi pertanian global sebesar 14 % (setara US$342,2 miliar) dalam dua tahun ke depan. Ia menilai perubahan iklim memperparah siklus ini, menjadikannya “pengganda risiko” yang memengaruhi banyak wilayah pertanian sekaligus.
Komoditas yang paling rentan
Beras Beras menjadi komoditas paling terancam. Sebagai sumber kalori bagi sekitar setengah populasi dunia, beras memerlukan antara 3.000–5.000 liter air per kilogram produksi. Produksi beras terpusat di India, Thailand, Vietnam, dan Pakistan—negara‑negara yang belakangan ini mengalami curah hujan tidak menentu, dengan periode kering panjang dan hujan deras yang tiba‑tiba.
- India, eksportir terbesar, mencatat penurunan monsun sebesar 13 % dari rata‑rata. Di wilayah produksi utama Andhra Pradesh dan Telangana, curah hujan pada Agustus turun masing‑masing 46 % dan 63 %, yang dapat menurunkan hasil panen lebih dari 20 %.
- Risiko terburuk dapat memengaruhi hingga 26 % produksi beras dunia.
Di sisi lain, beberapa negara eksportir beras lain, seperti Amerika Serikat dan Italia (masing‑masing 5,7 % dan 2,8 % perdagangan global), mungkin memperoleh manfaat dari kondisi lebih basah di wilayah selatan AS dan Eropa Barat selama El Niño. Namun, para ahli memperingatkan bahwa curah hujan berlebihan juga dapat menunda penanaman atau mengubah lahan menjadi tidak produktif.
Gula pasir India, yang sebelumnya menjadi eksportir gula tebu terbesar kedua, menghentikan hampir seluruh ekspor pada Mei 2024 karena kekeringan parah. Curah hujan di Karnataka, Andhra Pradesh, dan Tamil Nadu masing‑masing turun 28 %, 30 %, dan 32 % tahun ini.
Penurunan produksi juga terjadi di Eropa: produksi tebu merah di Jerman turun 22 % dan di Prancis 15 %. Di Asia, tebu di India dan Thailand masing‑masing turun sekitar 7 %. Kombinasi kekurangan air dan keterbatasan pupuk mempercepat kenaikan harga gula, yang pada Agustus mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak Oktober 2010.
Minyak kelapa sawit, kopi, dan kakao Tanaman perkebunan yang membutuhkan waktu bertahun‑tahun untuk menghasilkan (perennial) seperti kelapa sawit, kopi, dan kakao tidak dapat “ditanam kembali” dalam waktu singkat. Kakao, yang lebih dari setengahnya diproduksi di Ghana dan Pantai Ivory, serta minyak kelapa sawit (80 % berasal dari Indonesia dan Malaysia) sangat rentan terhadap perubahan curah hujan.
Kedelai, gandum, dan jagung Sektor tanaman tahunan menunjukkan tren berlawanan. Produksi kedelai di Amerika Serikat diproyeksikan naik 2,3 % pada 2026, dengan peningkatan lahan tanam sebagai faktor utama. Cina melaporkan kenaikan 1,7 % dan Paraguay 12,6 %. Kondisi basah di sebagian AS dan Amerika Selatan membantu menyeimbangkan kerugian di wilayah lain, meski beberapa daerah (misal Arkansas, Mississippi, Kansas, Missouri) tetap menghadapi panas ekstrem dan kekeringan.
Implikasi kebijakan perdagangan dan strategi perusahaan
Pemerintah dapat menanggapi kekurangan pasokan dengan pembatasan ekspor, terutama untuk komoditas strategis seperti minyak kelapa sawit, kopi, kedelai, dan tebu. Indonesia, yang menguasai sebagian besar produksi minyak kelapa sawit, dan negara‑negara lain berpotensi menurunkan volume ekspor jika terjadi kekurangan signifikan.
Bagi perusahaan pangan, ketergantungan pada pemasok utama meningkatkan kerentanan. Sebuah “buku” pemasok yang tampak beragam di permukaan dapat saja mengandalkan hanya dua negara yang mengalami kondisi cuaca serupa. Pengamat independen Raphaël Felenbok menekankan pentingnya transparansi rantai pasok upstream dan kesiapan alternatif bahan baku sebelum harga bahan mencapai titik impas.
Strategi yang disarankan meliputi:
- Pengujian formulasi ulang: mulai menguji perubahan resep, melakukan uji konsumen, dan menyiapkan label baru jauh sebelum harga bahan naik. Proses ini biasanya memakan waktu 9–18 bulan.
- Pemantauan batas margin: mengetahui pada harga bahan apa saja margin keuntungan akan tergerus.
- Diversifikasi sumber: menilai konsentrasi geografis pemasok tier‑one dan mengidentifikasi risiko bersama.
Kesimpulan
El Niño “Godzilla” 2026‑2027 menimbulkan tekanan simultan pada banyak wilayah pertanian, dengan dampak paling terasa pada beras, gula, dan komoditas perkebunan. Sementara beberapa tanaman tahunan dapat memperoleh manfaat dari curah hujan yang lebih tinggi, ketergantungan global pada segelintir tanaman utama memperparah risiko. Kebijakan ekspor dan kesiapan perusahaan dalam mengelola rantai pasok menjadi faktor kunci untuk mengurangi guncangan pasokan dan menjaga stabilitas harga pangan.