Pertanian
Norwegia dan FAO Perkuat Pemantauan Hutan Global untuk Aksi Iklim
Dipublikasikan pada

Dukungan Finansial Norwegia
FAO mengumumkan bahwa Norwegia akan menyalurkan dana sebesar 90 juta kroner Norwegia (sekitar US$ 9,5 juta) melalui inisiatif International Climate and Forest Initiative (NICFI). Bantuan ini dialokasikan untuk fase ketiga Sistem Akses, Pemrosesan, dan Analisis Data Pengamatan Bumi untuk Pemantauan Lahan (SEPAL) dan akan berlangsung hingga Desember 2030. Pendanaan tersebut selaras dengan program Accelerating Innovative Monitoring for Forests (AIM4Forests), sehingga kedua inisiatif dapat memperluas bantuan teknis bagi negara‑negara yang membutuhkan pemantauan hutan yang lebih akurat.
Fokus Fase Ketiga SEPAL
SEPAL, yang pertama kali diluncurkan pada tahun 2016 sebagai bagian dari inisiatif Open Foris, menyediakan rangkaian alat digital sumber terbuka bagi pemerintah, lembaga teknis, dan praktisi di seluruh dunia. Platform ini memungkinkan akses cepat ke citra satelit serta proses pengolahan data tingkat lanjut, sehingga negara dapat mengidentifikasi perubahan tutupan hutan, memantau deforestasi, dan mendukung upaya restorasi.
Pada fase ketiga, SEPAL diarahkan untuk:
- Menawarkan solusi geospasial generasi berikutnya yang dapat memenuhi persyaratan pelaporan iklim internasional.
- Membangun kapabilitas, perangkat, dan sistem yang memungkinkan pemantauan hutan secara mandiri oleh masing‑masing negara.
- Menyebarluaskan pengetahuan teknis sehingga pengguna dapat memanfaatkan data satelit untuk kebijakan berbasis bukti.
Menurut data FAO per Juni 2026, SEPAL telah terpakai oleh lebih dari 30 ribu pengguna aktif yang tersebar di 205 negara dan wilayah.
Sinergi dengan AIM4Forests
Fase ketiga SEPAL dirancang untuk bekerja beriringan dengan AIM4Forests, sebuah kemitraan strategis antara FAO dan Pemerintah Inggris. Program ini menekankan inovasi teknis, pengembangan kapasitas, serta pendekatan inklusif—termasuk partisipasi masyarakat adat dan pemangku kepentingan lain—dalam proses pemantauan hutan. Tujuannya adalah menggeser paradigma dari sekadar menghasilkan data menjadi memanfaatkan data tersebut dalam pembuatan kebijakan, transparansi iklim, dan keterlibatan dengan sumber pembiayaan berbasis ilmu pengetahuan.
Pernyataan Pejabat
Menteri Iklim dan Lingkungan Norwegia, Andreas Bjelland Eriksen, menekankan bahwa percepatan kecerdasan buatan menjadikan alat data yang terbuka dan transparan semakin krusial bagi negara‑negara dengan hutan. Ia menilai SEPAL dapat meningkatkan kemampuan pemerintah untuk melakukan pemantauan sendiri serta mengambil keputusan yang menguntungkan warga negara.
Sementara itu, Direktur Jenderal FAO, QU Dongyu, menyatakan bahwa data hutan yang dapat diakses, dapat dipercaya, dan transparan sangat penting bagi pengelolaan berkelanjutan, pemenuhan kewajiban pelaporan iklim, dan akses ke pembiayaan berbasis sains. Pendanaan baru ini diharapkan memperkuat sistem pemantauan nasional serta mempercepat penerapan teknologi inovatif untuk menghasilkan keputusan yang lebih baik dalam menghadapi perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.
Kesimpulan
Melalui alokasi dana sebesar 90 juta kroner Norwegia, FAO dan mitra internasionalnya menargetkan peningkatan signifikan dalam kapasitas pemantauan hutan dunia. Kombinasi SEPAL fase tiga dan AIM4Forests diharapkan tidak hanya memperbaiki kualitas data, tetapi juga memperkuat kemampuan negara dalam mengintegrasikan informasi tersebut ke dalam kebijakan, melaporkan kontribusi iklim, dan menarik investasi yang mendukung pelestarian serta pemulihan hutan.