Pertanian

El Niño kembali muncul: Daerah‑daerah dengan risiko tertinggi bagi sektor pertanian

Dipublikasikan pada

A dark-skinned man leads a large group of goats across a dry, sandy landscape.
Source: FAO Newsroom

Analisis terbaru FAO

Food and Agriculture Organization (FAO) mengumumkan bahwa fase El Niño baru kemungkinan akan terbentuk dalam hitungan minggu. Menggunakan data satelit selama 41 tahun melalui Agricultural Stress Index System (ASIS), FAO memetakan area di mana fenomena ini berpotensi menimbulkan kekeringan agrikultur paling parah. Pemetaan tersebut berlandaskan pola kelangkaan air pada peristiwa El Niño Southern Oscillation (ENSO) yang kuat atau sangat kuat.

Wilayah paling rentan

Pemetaan mengidentifikasi kawasan berikut sebagai zona dengan probabilitas kekeringan di atas 50 % dalam beberapa bulan ke depan:

  • Sahel (dari Senegal dan Mauritania selatan hingga Ethiopia dan Sudan)
  • Afrika Selatan (termasuk Namibia, Botswana, Angola, Zambia, Zimbabwe, Afrika Selatan, serta sebagian Mozambique dan Madagaskar)
  • Asia Selatan dan Tenggara (Pakistan, India, Myanmar, Thailand, Kamboja, Vietnam, Filipina, Indonesia, Timor‑Leste)
  • Koridor Kering Amerika Tengah serta wilayah Karibia (Kolombia, Venezuela, Kuba, Republik Dominika, Haiti)

Daerah‑daerah ini juga pernah terdampak berat pada siklus El Niño 2015–16 dan 2023–24, ketika gagal panen, kehilangan ternak, peningkatan utang rumah tangga, dan perpindahan penduduk terjadi secara meluas. Pada periode 2015–16, lebih dari 60 juta orang terdampak dan bantuan kemanusiaan mencapai US$5 miliar di 23 negara.

Faktor yang memperparah dampak

Kondisi iklim kini berhadapan dengan konflik bersenjata dan tekanan ekonomi, sehingga kerentanan meningkat. Sebagian besar dampak kekeringan (lebih dari 80 %) diperkirakan akan menimpa negara berpenghasilan rendah dan menengah. Di wilayah yang sedang berkonflik, kehilangan hasil pertanian dapat langsung menggerus kekayaan rumah tangga karena ternak sering menjadi aset utama, sementara cadangan makanan terbatas.

Upaya antisipatif FAO‑WFP

FAO bersama World Food Programme (WFP) meluncurkan permohonan bantuan gabungan senilai US$202 juta untuk melindungi sekitar 8,8 juta orang di 22 negara berisiko tinggi. Program ini menargetkan:

  • Penyediaan bantuan tunai pra‑musim
  • Dukungan bagi petani dan peternak (benih tahan kekeringan, pakan ternak, perbaikan irigasi)
  • Penguatan sistem peringatan dini sebelum kekeringan beralih menjadi krisis kemanusiaan

Strategi penanggulangan dini

Ketika risiko terdeteksi secara lokal, petani dapat menyesuaikan jadwal tanam, memilih varietas tahan kekeringan, atau menyiapkan pakan ternak cadangan. Analisis FAO mampu memperkecil skala penilaian risiko hingga satu kilometer persegi, namun efektivitasnya bergantung pada koordinasi antara badan meteorologi, kementerian pertanian, dan jaringan penyuluhan.

Keterangan dari petugas sumber daya alam FAO, Jorge Alvar‑Beltrán, menegaskan bahwa situasi kini berbeda dari siklus El Niño sebelumnya karena suhu global yang lebih tinggi serta meluasnya konflik dan ketidakamanan pangan. Ia menekankan bahwa daerah dengan kapasitas adaptasi terbatas akan merasakan dampak paling berat.

Petugas lain, Riccardo Soldan, menambahkan bahwa detail spasial yang tinggi memungkinkan pemerintah menyalurkan bantuan secara terfokus, alih‑alih menyebar secara merata ke wilayah yang tidak terlalu terancam.

Contoh keberhasilan tindakan pra‑musim

  • Afrika Selatan: Sebelum El Niño 2023–24, inisiatif regional mengalokasikan hampir US$31 juta untuk lebih dari dua juta orang di tujuh negara, menyediakan benih, bantuan ternak, dan sistem peringatan dini yang lebih baik.
  • Amerika Tengah: Distribusi benih pendek siklus dan tahan kekeringan membantu keluarga menumbuhkan sayuran, meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga, serta mengurangi praktik coping negatif seperti penjualan aset atau melewatkan makanan.

Penutup

Peta risiko yang disusun FAO menegaskan bahwa ancaman El Niño sudah teridentifikasi secara jelas. Keberhasilan dalam meminimalkan kerugian akan sangat bergantung pada kecepatan keputusan dan koordinasi antara lembaga‑lembaga terkait serta kemampuan mereka menyalurkan bantuan tepat waktu ke zona‑zona paling terdampak.

---

Data dan sumber: Analisis FAO, laporan WMO, dan pernyataan resmi pejabat FAO.