Pertanian

IAEA dan FAO Gunakan Teknik Nuklir untuk Mengendalikan Kembalinya New World Screwworm di Amerika Tengah, Meksiko, dan Amerika Serikat

Dipublikasikan pada

A hand holds a pile of black larvae amidst a container of black rice.
Source: FAO Newsroom

Latar belakang wabah New World Screwworm

New World Screwworm (NWS) merupakan lalat parasit yang menyerang hewan berdarah panas. Betina meletakkan telurnya pada luka terbuka atau selaput lendir; setelah menetas, larva menggali jaringan hidup, memperluas luka, dan dapat menimbulkan infeksi fatal bila tidak ditangani. Selama beberapa dekade, upaya pemberantasan berhasil menyingkirkan hama ini dari wilayah Amerika Utara dan Tengah. Namun sejak beberapa tahun terakhir, NWS muncul kembali di Amerika Tengah dan Meksiko, dan pada awal Juni 2026 terdeteksi kasus pertama di Amerika Serikat—kasus pertama dalam lebih dari empat dekade.

Upaya pemberantasan sebelumnya

Program eradikasi selama 45 tahun, yang memanfaatkan teknik Sterile Insect Technique (SIT), berhasil menyingkirkan NWS dari Amerika Serikat pada 1982 hingga Panama pada 2006. SIT melibatkan sterilisasi lalat dengan radiasi, kemudian melepaskannya untuk kawin dengan populasi liar sehingga tidak menghasilkan keturunan. Sebuah zona penghalang di Celah Darién, Panama, mempertahankan batasan selama hampir satu dekade hingga 2022, ketika hama mulai menyebar ke utara kembali. Pemberantasan tersebut diperkirakan menyumbang manfaat ekonomi tahunan sebesar US $1,3 miliar bagi peternak di Amerika Serikat, Meksiko, dan Amerika Tengah.

Kebangkitan kembali dan dampaknya

Kembalinya NWS menimbulkan ancaman serius terhadap kesehatan ternak, kesejahteraan hewan, satwa liar, serta kesehatan publik. Infestasi dapat menyebabkan kematian hewan, kerusakan kulit, serta penurunan produksi susu dan daging. Faktor-faktor seperti perubahan iklim, globalisasi, serta pergerakan hewan melintasi batas negara secara ilegal dipandang mempercepat penyebaran hama ini, menambah tantangan bagi negara‑negara yang berupaya mengendalikannya.

Proyek Penelitian Terkoordinasi (CRP)

Pada Kamis, 2024, International Atomic Energy Agency (IAEA) dan Food and Agriculture Organization (FAO) meluncurkan sebuah Coordination Research Project (CRP) berjangka lima tahun dengan anggaran US $1 juta. Proyek ini akan mengumpulkan pakar dari lebih 20 negara terdampak, termasuk wilayah di Amerika Selatan tempat NWS masih endemik. Tujuannya meliputi:

  • Memperkuat sistem pemantauan dan pengendalian lalat.
  • Meningkatkan kapasitas pembiakan massal dan proses sterilisasi.
  • Meneliti kompatibilitas perkawinan serta kompetisi lalat steril dengan populasi liar.
  • Mendukung pelepasan lalat steril secara terkoordinasi.

Rui Cardoso Pereira, kepala Seksi Pengendalian Hama Serangga di Joint FAO/IAEA Centre, menjelaskan bahwa proyek ini akan mengeksplorasi cara-cara meminimalkan biaya produksi massal, mengelola strain screwworm, serta mengoptimalkan metode penanganan dan pelepasan.

Kapasitas produksi lalat steril dan kebutuhan mendesak

Respons darurat diperkirakan memerlukan hingga 600 juta lalat steril per minggu, namun pasokan saat ini masih jauh dari kebutuhan. Saat ini satu‑satunya fasilitas produksi massal yang beroperasi, yaitu fasilitas COPEG di Panama, menghasilkan sekitar 100 juta lalat per minggu. Rencana ekspansi di Metapa de Domínguez (Meksiko) dan Mission (Texas) diproyeksikan menambah kapasitas hingga 400 juta lalat per minggu dalam beberapa tahun ke depan.

Pendekatan kolaboratif lintas batas

Menghadapi ancaman NWS dan penyakit hewan transboundary lainnya menuntut sinergi antara sistem surveilans dini, laboratorium diagnostik, serta tenaga veterinari yang terlatih. Pertukaran informasi yang cepat antarnegara menjadi kunci untuk merespon munculnya wabah secara efektif. SIT telah menjadi fokus utama Joint FAO/IAEA Centre of Nuclear Techniques in Food and Agriculture selama lebih dari enam dekade, melibatkan riset terapan serta transfer teknologi ke negara anggota.

Penutup

Dengan dukungan ilmiah dan teknis dari IAEA dan FAO, penggunaan teknik sterilisasi nuklir melalui SIT kembali menjadi senjata utama melawan kebangkitan New World Screwworm. Keberhasilan koordinasi internasional, peningkatan kapasitas produksi lalat steril, serta integrasi sistem pemantauan diharapkan dapat membatasi penyebaran hama ini dan melindungi kesejahteraan ternak serta ekonomi agrikultur di wilayah yang terdampak.