Pertanian

FAO Gelar KTT Penangkapan Ikan Skala Kecil 2026, Soroti Peran Sentral bagi Mata Pencaharian Global

Dipublikasikan pada

A panel of men and women, seated at a table with flags of various countries displayed behind them, appear to be engaged in a meeting.
Source: FAO Newsroom

Latar belakang dan agenda pertemuan

KTT Penangkapan Ikan Skala Kecil (SSF Summit 2026) yang ketiga diselenggarakan oleh Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) di kantor pusatnya, Roma, pada 4‑6 September 2026. Acara tiga hari itu mempertemukan delegasi dari berbagai negara untuk berbagi pengalaman, menimbang prioritas, serta merumuskan langkah‑langkah aksi yang dapat mendukung sektor yang menjadi mata pencariannya hampir 500 juta orang, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Pernyataan Qu Dongyu, Kepala FAO

Dalam sesi tingkat menteri pada hari terakhir, Qu Dongyu menegaskan bahwa perikanan skala kecil memegang peranan kunci dalam ketahanan pangan, pengentasan kemiskinan, dan agenda pembangunan berkelanjutan. Ia menambah bahwa perikanan baik di laut maupun di perairan darat menyediakan pangan bergizi bagi jutaan keluarga dan menjadi bagian penting dari identitas, tradisi, serta cara hidup masyarakat setempat. Menurutnya, sektor ini menyumbang sekurang‑nya 40 % hasil tangkapan ikan dunia dan mempekerjakan sekitar 90 % tenaga kerja pada rantai nilai perikanan tangkap.

Panduan Sukarela 2014 sebagai landasan kebijakan

Qu mengajak menteri‑menteri yang hadir—dari Brasil, Indonesia, Cabo Verde, dan Madagaskar—untuk kembali menegakkan Voluntary Guidelines for Securing Sustainable Small-Scale Fisheries in the Context of Food Security and Poverty Eradication (Panduan Sukarela Penangkapan Ikan Skala Kecil). Panduan yang diadopsi pada 2014 tetap menjadi alat strategis untuk mengintegrasikan pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan dengan pembangunan sosial, menjamin inklusivitas, keadilan, serta keseimbangan lingkungan, sosial, dan ekonomi.

Peserta, penyelenggara, dan sumber dana

KTT tersebut melibatkan pelaku perikanan skala kecil, komunitas Penduduk Asli, pejabat pemerintah, akademisi, serta lembaga‑lembaga terkait. Diskusi panel berfokus pada cara mempercepat pelaksanaan Panduan Sukarela dan mengimplementasikan Rencana Aksi Nasional (National Plans of Action).

Penyelenggaraan acara didukung oleh FAO bersama International Planning Committee for Food Sovereignty (IPC) Working Group on Fisheries, SwedBio, dan International Collective in Support of Fishworkers (ICSF). Pendanaan berasal dari Swedia, Norwegia, Jerman, serta program internal FAO seperti EAF Nansen Programme, program Uni Eropa Fish4ACP, dan sejumlah lembaga amal berbasis Inggris—Synchronicity Earth, Turning Tides, dan Blue Ventures—beserta mitra‑mitra pendukung lainnya.

Dampak, inisiatif regional, dan tantangan yang masih ada

Sejak diterbitkan, Panduan Sukarela telah membantu memperkuat jaringan perikanan skala kecil dan memperhatikan kebijakan sektoral. Negara‑negara di sekitar Laut Mediterania dan Laut Hitam, yang menghadapi tekanan keberlanjutan yang tinggi, sepakat menyusun Rencana Aksi Regional. Sementara itu, tujuh negara telah meluncurkan Rencana Aksi Nasional untuk Penangkapan Ikan Skala Kecil (NPOA‑SSF) secara partisipatif.

Namun, realisasi potensi penuh sektor ini masih terhambat oleh berbagai ancaman: degradasi lingkungan, perubahan pola penangkapan, gangguan pada tempat pemijahan ikan, kejadian cuaca ekstrem, kehilangan keanekaragaman hayati, pencemaran, serta variasi iklim. Kompetisi dengan sektor ekonomi lain demi sumber daya juga menambah tekanan pada mata pencarian komunitas pesisir.

Keterkaitan dengan pertemuan COFI37

KTT ini dilaksanakan tepat sebelum Sidang ke‑37 Komite Perikanan (COFI37)—sebuah badan pengambilan keputusan FAO—sehingga dapat berfungsi sebagai titik temu untuk menyoroti isu‑isu perikanan skala kecil kepada forum internasional yang lebih luas dan memperkuat koordinasi regional serta global di antara organisasi‑organisasi terkait.

Penutup

Perikanan skala kecil tetap menjadi ujung tombak bagi keamanan pangan, pendapatan keluarga, dan konservasi ekosistem, meski suara mereka sering terpinggirkan. Pengakuan akan peran strategis ini, disertai implementasi kebijakan yang inklusif dan berbasis pengetahuan tradisional, menjadi langkah penting dalam mengatasi tantangan keberlanjutan global.