Makanan
Tujuh Tren Nutrisi yang Mengubah Lanskap Makanan dan Minuman
Dipublikasikan pada

Clean eating menjadi pilihan utama Gerakan “clean eating” kini menduduki peringkat teratas sebagai diet paling populer di tahun 2026. Awalnya dipopulerkan oleh selebriti seperti Gwyneth Paltrow, Miranda Kerr, dan Alicia Silverstone, kini konsep tersebut telah merambah ke konsumen luas. Produk dengan label bersih menikmati lonjakan penjualan karena konsumen mengutamakan bahan yang tampak alami, minim proses, serta daftar kandungan yang singkat dan bebas tambahan kimia. Tren ini bahkan melampaui diet anti‑inflamasi dan berbasis nabati, sementara puasa intermiten kehilangan posisinya dalam daftar.
Kesehatan usus terus menguat Nilai pasar industri kesehatan usus mencapai US$ 60 miliar dan diproyeksikan naik menjadi US$ 114 miliar dalam tujuh tahun ke depan. Kesadaran publik tentang peran usus dalam sistem imun, pencernaan, kesehatan mental, dan metabolisme mendorong inovasi pada makanan fungsional, minuman, serta suplemen. Produk yang dulunya hanya berupa yoghurt atau makanan fermentasi kini meluas ke permen, camilan, minuman, dan alternatif produk susu.
Harga terjangkau bersanding dengan kesejahteraan Konsumen kini menilai harga dan manfaat kesejahteraan secara bersamaan ketika memutuskan pembelian. Meskipun faktor biaya tetap menjadi pertimbangan utama di kasir, konsumen juga mencari produk yang memberi rasa nyaman, rasa aman, dan dukungan emosional. Tekanan biaya hidup serta ketidakpastian geopolitik menjadi pendorong permintaan akan makanan dan minuman yang terasa dapat diakses sekaligus menenangkan.
TikTok menjadi arena utama penyebaran informasi nutrisi Platform TikTok kini melampaui Instagram sebagai sumber utama bagi banyak orang dalam mencari tahu seputar diet dan kesehatan. Video singkat, tantangan viral, dan saran influencer menentukan persepsi konsumen lebih cepat daripada media tradisional. Namun, ahli gizi menilai TikTok sebagai sumber utama misinformasi nutrisi, menantang para profesional dan merek untuk menonjolkan bukti ilmiah, otoritas, dan kepercayaan di tengah arus informasi yang cepat.
Bahan baru masuk ke sorotan Berbagai bahan yang sebelumnya kurang dikenal kini mendapat tempat dalam formulasi produk nutrisi. Kolagen, lemak sapi (beef tallow), adaptogen, cuka sari apel, dan jamur reishi diprediksi akan menarik perhatian konsumen dalam satu tahun ke depan. Fokus pada manfaat fungsional—seperti dukungan kulit, mengurangi stres, memperbaiki pencernaan, atau meningkatkan energi—menjadikan bahan‑bahan tersebut kompetitor utama dalam inovasi makanan dan minuman, mulai dari minuman, suplemen, hingga camilan.
Protein menjadi faktor utama dalam pilihan pembelian Protein kini menjadi salah satu kriteria utama bagi pembeli makanan dan minuman. Selain kadar protein, konsumen memperhatikan familiaritas merek, kebiasaan budaya atau keluarga, rendah gula tambahan, serta variasi rasa. Peran protein telah meluas dari sekadar nutrisi atletik menjadi simbol rasa kenyang, kekuatan, dan kesehatan secara umum, memengaruhi pengembangan produk serta penataan rak di supermarket.
Fokus inovasi beralih dari kecerdasan buatan ke solusi nyata Kecerdasan buatan (AI) tetap mendukung proses inovasi, namun sorotan kini bergeser ke teknologi yang memberikan dampak lingkungan, ketahanan rantai pasokan, dan keamanan pangan jangka panjang. Produk berbasis sel, makanan nabati inovatif, dan inisiatif keberlanjutan menjadi pendorong perubahan utama. Contohnya mencakup kakao yang dibudidayakan secara sel, protein nabati generasi berikutnya, reformulasi kemasan, serta metode produksi yang lebih efisien sumber daya. Perubahan regulasi dan ekspektasi konsumen semakin mempercepat transformasi ini.
Menatap masa depan nutrisi dalam industri makanan dan minuman Nutrisi telah menjadi pilar pertumbuhan kategori, relevansi merek, dan nilai jangka panjang. Memasukkannya ke dalam strategi inti membuka peluang untuk mendesain, memposisikan, dan menentukan harga produk secara lebih cerdas. Perusahaan yang menempatkan nutrisi sebagai inti strategi diperkirakan akan meraih pertumbuhan berkelanjutan dan kepercayaan konsumen. Tantangan utama kini adalah mengubah ambisi nutrisi menjadi inovasi yang dapat diproduksi secara massal dan menguntungkan. Mereka yang berhasil melakukannya tidak hanya mengikuti permintaan, melainkan turut membentuk arah masa depan makanan dan minuman.