Pertanian

FAO Luncurkan Model Strategis Baru untuk Menangani Penyakit Hewan Lintas Batas

Dipublikasikan pada

A man in a blue shirt leads a herd of goats across a dry, grassy plain with a thatched hut in the background.
Source: FAO Newsroom

Latar Belakang Ancaman Penyakit Hewan Transboundary

Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menyoroti bahwa penyakit hewan yang dapat melintasi batas negara (transboundary animal diseases/TADs) terus mengancam mata pencaharian, perdagangan, serta kesehatan manusia, terutama di negara berpenghasilan rendah‑menengah. Contoh kasus yang menonjol meliputi flu unggas berpatogen tinggi, penyakit mulut dan kuku, demam babi Afrika, serta larva screwworm Dunia Baru. Penyebarannya kini lebih cepat, menjangkau wilayah yang lebih luas, dan menimbulkan dampak ekonomi serta sosial yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Direktur Jenderal FAO, QU Dongyu, menekankan bahwa biaya pencegahan jauh lebih kecil dibandingkan kerugian yang timbul bila tidak melakukan aksi. Menurut penilaian dampak FAO, masuknya serotipe SAT1 penyakit mulut dan kuku ke Asia berpotensi menelan kerugian hingga US$ 2 miliar per tahun. Ia menambahkan pentingnya pendekatan “One Health” yang mengintegrasikan kesehatan tanah, tanaman, hewan, manusia, dan lingkungan.

GPP‑TAD: Inisiatif Berbasis Negara

FAO memperkenalkan Global Partnership Programme for Transboundary Animal Diseases (GPP‑TAD), sebuah skema yang menitikberatkan peran negara dalam merancang dan melaksanakan upaya pencegahan serta penanggulangan. Melalui National Partnership Platforms, pemerintah bekerjasama dengan sektor swasta, produsen, yayasan, organisasi petani, dan lembaga keuangan dalam satu kerangka kerja nasional.

Pada pertemuan tingkat tinggi yang dihadiri menteri-menteri pertanian dari Italia, Kamerun, Yordania, Mali, Mongolia, Nepal, Burkina Faso, Serbia, Kenya, Brasil, Indonesia, Kyrgyzstan, Tonga, Kepulauan Solomon, Mesir, serta Papua Nugini, dukungan internasional terhadap koordinasi yang lebih terstruktur ditunjukkan secara jelas.

Perubahan Paradigma Pendanaan dan Tata Kelola

Selama lebih dari dua dekade, FAO mengandalkan Emergency Centre for Transboundary Animal Diseases (ECTAD) serta proyek berbasis donor untuk menanggulangi TADs. GPP‑TAD menawarkan model pembiayaan baru yang bersifat solidaritas, di mana:

  • Setiap negara peserta menyumbang dana sesuai kemampuan masing‑masing.
  • Kontribusi sukarela dari mitra pembangunan, lembaga keuangan internasional, dan sektor swasta menjadi pelengkap.

Sebagai gantinya, FAO beralih dari peran sebagai pelaksana utama menjadi fasilitator global yang menyediakan panduan normatif, intelijen penyakit melalui program EMPRES, serta bantuan darurat bila diperlukan.

Struktur Operasional

  • National Partnership Platforms menjadi motor utama aksi di tingkat negara.
  • Regional hubs mengkoordinasikan respons lintas batas, tempat dampak penyakit paling signifikan dan kebutuhan kolaborasi paling mendesak.
  • Steering Committee global memberikan arahan strategis dengan perwakilan seimbang dari semua kawasan.
  • Technical Advisory Group, termasuk badan‑badan pengatur FAO, bertugas mengawasi pelaksanaan kebijakan.

FAO tetap mendukung digital surveillance, peringatan dini, inovasi kesehatan hewan, serta persiapan berbasis risiko. Lima bidang kerja utama program meliputi: pencegahan dan kontrol progresif, pemantauan digital, kesiapsiagaan serta aksi antisipatif, respons darurat terkoordinasi, dan pengembangan regulasi serta model pembiayaan.

Partisipasi Negara

Hingga kini, 110 negara telah mengirim surat resmi kepada Direktur Jenderal FAO menyatakan niat bergabung dalam GPP‑TAD, menandakan komitmen politik dan keuangan yang kuat untuk mengatasi ancaman penyakit hewan yang paling menantang dan mahal.

Penutup

QU Dongyu menegaskan bahwa GPP‑TAD merupakan “platform global yang mengedepankan solidaritas, tanggung jawab bersama, dan investasi yang berkelanjutan serta dapat diprediksi.” Pernyataan penutupnya menekankan keterkaitan antara kesehatan tanah, tanaman, hewan, dan lingkungan sebagai dasar bagi ketahanan pangan dan kualitas hidup manusia.